Pada seminar nasional bertema Arah Pendidikan Nasional dan Transformasi Pendidikan Lokal di Daerah yang di selenggarakan Pascasarjana Administrasi Pendidikan UNISKA MAB Banjarmasin tanggal 22 Februari 2025, saya berkesempatan menjadi salah satu pembicara. Dalam acara tersebut, saya mendapatkan pertanyaan menarik, yang mungkin mewakili kegelisahan para pendidik dan orang tua. Sebuah pertanyaan yang mengekspresikan kekhawatiran terhadap perjalanan bangsa ke depan.
Salah seorang peserta seminar bertanya bagaimana menanamkan pendidikan karakter pada anak di sekolah. Pertanyaan ini dilandasi banyaknya kasus memprihatinkan yaitu generasi saat ini kurang bisa menghargai orang lain. Banyak teori yang dapat dipaparkan sebagai alternatif solusi, namun saya mencoba memberikan alternatif jawaban berdasarkan observasi dan pengalaman. Saya merespon dengan jawaban“ Mari Kita ajari peserta didik dengan keteladanan, salah satunya etika berinteraksi dan berkomunikasi di lingkungan pendidikan”.
Bukan tanpa sebab saya menjawab demikian. Saya pernah mendapati kejadian di sebuah lembaga pendidikan yang kurang memperhatikan hal ini. Walaupun tak ada aturan baku tentang cara berinteraksi dan berkomunikasi di lingkungan pendidikan, sudah selayaknya warga sekolah/ kampus menghindari perilaku diskriminasi saat berkomunikasi dan bersikap adigang, adigung, dan adiguna.
Saya berasumsi, walau perkara remeh temeh, yakni menyapa sesama rekan kerja, tak elok rasanya, kepada rekan tertentu memanggil Pak, sementara ke kolega yang lain memanggil nama secara langsung, terlebih lagi di tengah banyak orang. Begitupun sikap merasa lebih tinggi yang terpancar dalam tingkah laku sok berkuasa dan tidak sopan, baik kepada yang lebih muda, terlebih lagi kepada rekan kerja yang usianya lebih tua.
Saya memiliki pengalaman tentang kerendahan hati dan perilaku yang menyebabkan orang yang memiliki sifat demikian sangat dihormati di tempat kerja, juga berdampak pada kuatnya loyalitas bawahan, dan menambah semangat karyawan melaksanakan tanggung jawab, yakni dua guru saya yang hebat. Bapak Afghon Andjasmoro, dan Bapak Midi Sudiyana.
Setelah menyelesaikan studi di ULM Banjarmasin, Saya direkomendasikan dosen saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai tenaga administrasi dan keuangan. Saat jumpa pertama Pak Afghon, pemilik perusahaan, beliau berusia sekitar 63 tahun, dan saya 24 tahun. Di mata saya, Beliau sosok pimpinan yang cerdas, humanis dan sabar. Di sini, kecintaan saya terhadap pengetahuan umum dan kehidupan semakin dalam. Mungkin karena di kantor, Pak Afghon mengajari saya berbagai hal mengenai administrasi dan keuangan perusahaan tanpa sekalipun pernah meninggikan suaranya. Pernah pada tahun 2001, Saya keliru menghitung, sehingga perusahaan rugi sebesar 24 juta. Berulang kali saya meminta maaf, tapi Beliau tidak marah. “Bukan salah Pak Iwan, saya yang teledor tidak mengajari terlebih dahulu,” ucapnya menenangkan rasa bersalah saya.
Pak Afghon mempunyai beberapa perusahaan yang tersebar di beberapa provinsi. Satu hal yang membuat saya salut adalah ketika perusahaan yang beroperasi di Banjarmasin merugi, saya bertanya kepada Beliau mengapa tidak menutup perusahaan. Pak Afghon memandang tajam penuh kasih dan menjelaskan. “Bekerja itu ibadah. Kalau saya tutup sekarang, bagaimana dengan karyawan dan keluarganya. Saya masih bisa mensubsidi dari perusahaan yang lain. Kita berjuang saja agar bisa bangkit kembali,” jawabnya. Beliau juga menekankan tidak perlu takut kepadanya, apalagi sampai merasa takut dipecat. “Rejeki Pak Iwan sudah diatur Allah SWT, tidak usah takut dengan saya,” jelasnya.
Pak Afghon yang berpendidikan MBA, mantan Direktur Utama perusahaan Nasional, dan pernah menjabat wakil rektor di salah satu PTS di Gresik, juga merespon apabila saya ajak diskusi tentang banyak hal, mulai dari masalah pekerjaan, dunia pendidikan, hingga permasalahan bangsa.Wawasan Pak Afghon sangat luas. Beliau lancar berbahasa Inggris dan Arab. Hebatnya lagi, meski sebagai owner, Beliau tidak menolak kalau diajak jalan-jalan naik sepeda motor keliling kota, jalan-jalan ke toko buku, ataupun ke tempat kajian ilmiah.
Pak Afghon tipe pemimpin yang sangat mendukung anak buahnya untuk maju berkembang. Selama bekerja di perusahaannya, Beliau mengijinkan dan mendukung saya melanjutkan studi ke Pendidikan Bahasa Inggris UNISKA MAB, Fakultas Dakwah IAIN Antasari, dan Pascasarjana Manajemen ULM Banjarmasin. Saya merasa beruntung berjumpa Pak Afghon.
Adalah Pak Midi Sudiyana, salah satu dosen favorit saya sewaktu kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNISKA MAB Banjarmasin. Beliau sosok dosen yang tegas, berwibawa dan ramah dengan para mahasiswa. Saya yakin semua alumni PBI UNISKA yang pernah dididiknya masih ingat dengan kalimat “Come on Young Man, Do not do GTM,” apabila kami “membisu,” tidak ada yang menjawab pertanyaan Beliau.
Selepas yudisium pada tahun 2007, Pak Midi menawarkan kesempatan menjadi asistennya. “Saya belum pernah menawarkan ini ke siapapun, cuma Iwan,” ujar Beliau. Bagi saya, ini adalah sebuah kehormatan. Dengan senang hati, saya pun mengiyakan tawaran yang mengubah rencana hidup saya.
Saya ingat betul pertama kali masuk kelas. Pak Midi memperkenalkan saya kepada mahasiswa semester akhir. “This Pak Iwan, The best graduation of English Departement UNISKA. He will guide you on English for Specific Purpose”.Semenjak menjadi asistennya, jika bertemu di Kampus, Pak Midi tidak pernah lagi memanggil nama saya secara langsung. Beliau selalu menyapa saya dengan panggilan Pak Iwan. Saya pernah merasa tidak enak hati dan berucap “Pak, panggil Iwan saja, seperti dulu”. Beliau menjawab tegas, “No, Pak Iwan. Dulu Pak Iwan mahasiswa saya, tapi sekarang sudah jadi kolega saya. “Kita profesional di kampus,” tegasnya. Menurut saya, sulit mencari figur seperti Beliau, dosen cerdas lulusan New Zealand yang tidak merasa lebih tinggi hanya karena memberikan saya kesempatan mengajar di kampus.
Bagi saya Pak Afghon dan Pak Midi memberikan keteladanan yang luar bisa tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dan berkomunikasi secara profesional di dunia kerja. Mereka tetap rendah hati walaupun kaya raya, cerdas dan memilik kelas sosial yang tinggi.
.jpeg)
Pak Afghon, tidak pernah merendahkan kami para karyawan padahal beliau pemilik perusahaan. Pak Midi, pun tidak pernah menunjukkan sikap merasa lebih tinggi padahal beliau berjasa memberikan saya kesempatan menjadi seorang dosen di PTS terbesar di Kalimantan Selatan. Sikap mereka menumbuhkan rasa hormat saya kepada keduanya. Saya pun berhipotesa, mungkin sikap dan perilaku orang-orang cerdas namun rendah hati seperti itu adanya.
Saya berkeyakinan bahwa penanaman karakter pada siswa agar mampu bersikap menghormati orang lain akan menjadi efektif apabila diterapkan etika berinteraksi dan berkomunikasi di lingkungan sekolah, karena mereka melihat praktik nyata oleh para guru-gurunya, sebagaimana yang dipraktikkan oleh dua guru saya yang luar biasa di tempat kerja, Pak Afghon dan Pak Midi Sudiyana.