Salah satu film bergenre drama petualangan yang pernah saya tonton adalah Gladiator. Film yang dibintangi Russell Crowe, aktor berkebangsaan Australia kelahiran tahun 1964, ini menurut saya sangat recommended bagi pecinta film action. Adegan yang ditampilkan dalam film ini sangat menegangkan seperti pertarungan Maximus (Russell Crowe) di Colosseum. Tak hanya Martial Arts Choreographer yang keren hingga memikat banyak orang. Film ini juga mampu menghantarkan penonton hanyut terbawa kisah hidup Maximus Decimus Meridius yang dikemas penuh emosional. Kabarnya film yang disutradarai Ridley Scottini meraih banyak kesuksesan. Meraup keuntungan US$457 juta di seluruh dunia dan juga sederet penghargaan.
Menganalogikan film bernuansa kekerasaan sebagai contoh mengelola lembaga pendidikan mungkin tidak tepat. Sebab sejatinya pendidikan menjauhkan kita dari hal-hal yang berbau kekerasaan. Tapi dalam batas tertentu, saya kira tidak mengapa?. Seperti gaya kepemimpinan. Dalam hal ini, Anda boleh tidak setuju dengan saya.
Saya berasumsi para pemimpin, termasuk pemimpin lembaga pendidikan dapat mengambil nilai-nilai kepemimpinan yang ada pada diri Maximus Decimus Meridius, Jenderal yang dibuang oleh sang penguasa saat itu. Kaisar Commodus menganggap sang jenderal sangat loyal kepada ayahnya, Kaisar Marcus Aurelius. Sang penguasa menganggapnya sebagai sebuah ancaman.
Menurut kaca mata saya, terdapat beberapa poin yang dapat diambil sebagai pembelajaran tentang leadership. Diceritakan dalam film yang meraih lima Academy Awards ini, antara lain:
1. Visi kepemimpinan yang kuat
Maximus bertekad membalas dendam atas kematian keluarganya dan mengembalikan Roma kepada rakyatnya sesuai visi Kaisar Marcus Aurelius yaitu Menjadi Kaisar Romawi berarti menjadi orang baik dan melayani rakyatnya. Tujuan Maximus sangat jelas. Di setiap tindakannya, Maximus selalu fokus dan full integrity. Pemimpin pendidikan seharusnya memiliki visi jelas, kuat dan terarah. Fokus pada hal yang ingin dicapai, misalnya meningkatkan kualitas pembelajaran, akreditasi sekolah, atau membangun kultur pembelajaran berbasis nilai.
2. Analisis SWOT
Seorang Pemimpin lembaga pendidikan harus menganalisis lingkungan internal dan eksternal lembaga pendidikan. Dengan melakukan analisis SWOT, dia akan mendapatkan data tentang kebutuhan siswa, kekuatan staf pengajar, peluang kolaborasi, dan tantangan persaingan dengan sekolah lain. Perilaku ini ditunjukkan Maximus dengan cara selalu memahami situasi, baik pada saat bertarung di arena ataupun menghadapi konflik politik. Dia membaca kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman di setiap langkahnya.
3. Strategi Kolaboratif
Maximus yang dijadikan Gladiator mampu bertahan dan memenangkan setiap pertempuran. Dia tidak bertarung sendirian. Sang Jenderal memotivasi gladiator lainnya agar bekerja sama dalam melawaan gladiator lainnya. Maximus tidak mempersoalkan latar belakang gladiator yang dipimpinnya, demi bertahan hidup semua dirangkul. Di lembaga pendidikan, pemimpin harus melibatkan semua pihak, termasuk guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Ini penting dalam upaya mencapai tujuan bersama.
4. Pemberdayaan sumber daya yang optimal
Di colosseum, Maximus memenangkan seluruh pertempurannya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, seperti senjata sederhana atau kemampuan fisik semata. Berbeda dari lawannya yang mempunyai perangkat perang lengkap, dan jumlah yang lebih banyak. Seorang Pemimpin lembaga pendidikan juga harus cerdik dan kreatif mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Baik sumber daya manusia, maupun pemanfaatan teknologi dan fasilitas untuk mencapai tujuan pendidikan.
5. Komitmen terhadap Visi Jangka Panjang
Seorang pemimpin wajib memiliki komitmen yang kuat terhadap visi lembaganya. Dalam film digambarkan, Maximus adalah sosok yang berjuang untuk masa depan Roma. Dia tidak bertarung semata-mata untuk kemenangan pribadinya saja. Maximus berkomitmen untuk visi yang lebih besar daripada dirinya sendiri, yaitu kejayaan Roma. Belajar dari Jenderal Maximus, seorang pemimpin pendidikan seharusnya fokus pada perjuangan utamanya, yakni mencetak generasi yang kompeten dan berkarakter demi kemajuan negara. Bukan semata-mata kejayaan pribadinya, atau sekadar mendapatkan keuntungan finansial baik bagi dirinya atau lembaganya saja.
Film ini luar biasa: menarik ditonton, dan sarat makna. Menegaskan opini saya di awal bahwa menjadikan kisah Maximus sebagai analogi dalam kepemimpinan pendidikan kurang tepat jika pada konteks kekerasannya. Akan tetapi jika jika fokusnya diarahkan pada nilai kepemimpinan, strategi, dan integritas, saya berpendapat masih dapat diterima.
Dalam perspektif saya, Film Gladiator adalah contoh tentang kepemimpinan berbasis nilai, keberanian, dan strategi. Tak ada salahnya belajar dari Maximus. Pemimpin lembaga pendidikan dapat merancang perencanaan strategis yang berfokus pada visi besar, memanfaatkan sumber daya secara optimal. Dan tak kalah pentingnya, melibatkan banyak pihak untuk memajukan lembaga.