Usir gabut jelang akhir tahun 2024, kuajak ponakan ke Golden Theatre. Satu-satunya bioskop di Kota Marmer (Yuk tebak kota apa ya ?). “Mufasa The Lion King”, koyo 'e rame Poh Iwan, jawab Fatir. “Selainnya, bertema horror” jawabnya lagi. Seru juga film animasi yang ditampilkan secara fotorealistis ini. Film bergenre drama musical ini membuatku merasa enjoy. Lagu-lagunya asyik, renyah di kuping he he he. Di awal cerita, Kiara, anak simba ditampilkan ketakutan di dalam goa saat hujan disertai petir. Dia berjumpa Rafiki, sahabat kakeknya. Untuk menghibur Kiara yang ketakuan, Monyet besar berjenis Mandril itu kemudian menceritakan sejarah kakeknya, Mufasa, penguasa Tanah Milele.
Scene film beralih. Mufasa yang tengah gembira bermain dengan ayah-ibunya, terlempar dhantam banjir. Dia terpisah jauh dari kedua orang tuanya. Mufasa ditemukan Taka, anak Obasi dan Eshe. Obasi menolak kehadiran Mufasa, namun karena perlindungan Eshe, ibu Taka, akhirnya dia memperbolehkan Mufasa tinggal tinggal bersama kelompokya. Eshe melatih kedua singa kecil tersebut hingga tumbuh dewasa. Keduanya menjadi singa yang kuat, cerdas, dan memiliki rasa persaudaraan yang kuat.
Suatu hari, gerombolan singa lain yang lebih kuat menyerang Eshe, Mufasa dan Taka. Shaju, anak pimpinan gerombolan singa penyerang tewas. Kiros, pimpinan kelompok singa penyerang tidak terima anaknya mati. Kiros membalas dendam dengan membantai Obasi dan kelompoknya. Atas perintah Obasi dan Eshe, Mufasa dan Taka melarikan diri ke Milele, tanah yang dijanjikan.
Dalam pelarian, mereka berjumpa Sarabi, singa betina yang berkawan dengan Zazu, si burung enggang berparuh merah yang bertugas melaporkan keadaan kepada Mufasa, Taka dan Sarabi. Benih cinta yang tumbuh antara Mufasa dan Sarabi menyebabkan Taka menjadi kecewa dan menaruh dendam. Mufasa menyadari lawan lebih kuat dan lebih banyak. Dia mengajak seluruh penghuni Milele bergabung dengannya melawan Kiros. “Hari ini dia menyerangku, besok dia akan menyerang kalian. Karena itu, mari kita bersatu”. Gayung bersambut, ajakan Mufasa diterima penghuni Milele. Perang antara dua kelompok pun terjadi. Serunya duel antara Mufasa dan Kiros dapat Anda saksikan langsung di Bioskop he he he.
Menurut saya, Mufasa: The Lion King cukup relevan sebagai analogi pengelolaan lembaga pendidikan. Film ini mengandung pelajaran tentang kepemimpinan: kolaborasi, pengelolaan sumber daya, dan pembinaan generasi muda. Sedikitnya ada 3 bagian cerita yang dapat dikiaskan untuk menambah wawasan , yaitu:
1. Eshe melatih Mufasa dan Taka
Pembinaan generasi memainkan peran penting dalam menjaga eksistensi sebuah kelompok, termasuk organisasi pendidikan. Seperti halnya Eshe yang berperan sebagai mentor untuk melatih Mufasa dan Taka agar terampil berburu, sebuah lembaga pendidikan juga harus mempersiapkan kader terbaiknya untuk menjadi pemimpin organisasi di masa depan. Ini penting demi menjaga eksistensi sekaligus mendorong kemajuan lembaga.
2. Peran Zazu yang sangat penting
Mufasa melihat kelebihan Zazu memantau keadaan. Informasi Zazu menghindarkan mereka dari penyergapan Kiros dan kelompoknya. Dalam organisasi pendidikan, seorang pemimpin harus mampu melihat kelebihan orang-orang yang dipimpinnya. Dan menempatkan mereka sesuai keahliannya. ini penting untuk memastikan kelancaran operasional lembaga.
3. Mufasa mengajak seluruh binatang bersatu melawan Kiros
Masalah atau tantangan besar yang mengancam kelompok tidak dapat diselesaikan secara individu. Dengan melibatkan seluruh komunitas, kesulitan akan lebih mudah diatasi. Seorang pemimpin lembaga pendidikan harus mampu menjadi pemimpin kolaboratif. Ia harus mampu menyatukan semua pemangku kepentingan, termasuk guru, siswa, orang tua, dan masyarakat, guna mewujudkan visi bersama bagi kemajuan lembaga pendidikan yang dipimpinnya.
Film ini sangat recommended bagi pengelola lembaga pendidikan. Selain sebagai hiburan, film ini sarat pengetahuan tentang kepemimpinan yang dapat dipraktikkan dalam organisasi Pendidikan. Selamat menonton.