loading

Author :
Uploaded : Invalid date

Bismillah, sebagai seorang tenaga pendidik di Madrasah Aliyah Normal Islam Puteri dalam lingkungan Ponpes Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai, saya ingin berbagi pengalaman tentang pentingnya strategi komunikasi dalam dunia pendidikan. Di MAS Normal Islam Puteri Rakha Amuntai, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter insan. Komunikasi yang baik dan efektif menjadi kunci utama untuk menciptakan sinergi di antara semua pihak: guru, santri, orang tua, maupun pengelola pondok.

Komunikasi sebagai Jembatan Penghubung 

Pendidikan itu ladang amal, dan komunikasi adalah alat yang membantu kita menanam benihnya. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS Al-Isra: 53). Itulah yang kami terapkan di MAS Normal Islam Puteri Rakha. Sebuah komunikasi yang baik mampu menguatkan ukhuwah dan memperbaiki setiap hal dalam pendidikan. Adapun cara kami mewujudkan hal tersebut yaitu dengan:

1. Berbicara dengan lembut, tapi tegas

Sebagai ustadzah yang mengajar santriwati yang semua pasti wanita, tantangan utama adalah menyampaikan sesuatu dengan kelembutan tanpa kehilangan ketegasan. Misalnya, saat santriwati melanggar peraturan madrasah, saya akan memanggil secara pribadi, berbicara dengan tenang, dan menjelaskan akibat dari tindakannya. Pendekatan seperti ini tidak hanya menanamkan rasa hormat tetapi juga membuka hati mereka merenungi apa yang sudah dilakukan sehingga memunculkan keinginan untuk berubah. Kepada orangtua atau wali santriwati, kami akan berusaha menjalin komunikasi yang intens terkait perkembangan santriwati,

2. Mendengarkan dengan sabar dan hati yang lapang

Kodrat seorang wanita mempunyai perasaan yang halus dan tersembunyi. Terkadang, santriwati hanya ingin didengar. sebagian dari mereka,  ada yang membawa beban dari rumah atau lingkungan tempat mereka tinggal. Dalam beberapa kesempatan, saya duduk bersama mereka, mendengarkan curahan hati mereka dengan sabar tanpa buru-buru menghakimi. Ketika mereka didengar, mereka akan merasakan kenyamanan sehingga akan lebih mudah menerima nasihat.

3. Bahasa yang bermakna

Di pondok pesantren, bahasa Arab dan bahasa Indonesia sering digunakan sebagai bahasa formal. Namun, saat berkomunikasi dengan santriwati, saya selalu berusaha menggunakan bahasa yang ringan dan memberikan analogi sederhana tapi sarat dengan makna, misalnya selalu mencoba mengaitkan pembelajaran dengan hal-hal yang mereka hadapi dalam kehidupan agar mereka lebih mudah memahami penjelasan yang saya berikan.

4. Menyampaikan dengan senyum dan doa

Setiap pesan yang disampaikan dengan senyum tulus akan terasa lebih hangat. Kami selalu menyisipkan doa untuk semua santriwati sebelum memulai pembicaraan yang lebih mendalam, memohon kepada Allah SWT agar pesan yang disampaikan sampai ke hati mereka yang terdalam agar meninggal jejak pemahaman bagi mereka.

5. Memberi Teladan Melalui Akhlak

Komunikasi tidak selalu soal kata-kata. Tindakan kita juga merupakan bentuk komunikasi. Sebagai pengajar, kami selalu berusaha menjadi contoh dalam disiplin, kesabaran, dan adab. Santriwati lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang hanya mereka dengar.

6. Teknologi sebagai pendukung, bukan pengganti

Walaupun berada di lingkungan pondok pesantren, MAS Normal Islam Puteri Rakha telah memanfaatkan teknologi untuk komunikasi. Grup WhatsApp kelas maupun orangtua santriwati misalnya, menjadi sarana untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan tepat. Pun sebagai wadah penyampaian hal-hal uang memerlukan pemecahan bersama. Namun, pertemuan langsung tetap menjadi prioritas utama untuk terus menjaga hubungan yang lebih personal sehingga tercipta sinergi yang kuat terutama untuk permasalahan dalam pembelajaran.

7. Melibatkan semua pihak terkait dalam dialog yang efektif untuk mengatasi kendala dengan bijaksana

Sinergi tidak akan tercipta jika hanya satu pihak yang bicara. Dalam beberapa hal, kami melibatkan santriwati dalam diskusi, meminta mereka berbagi pendapat atau menyampaikan ide. Dalam rapat bersama orangtua/ wali santriwati, kami juga mendorong keterbukaan agar setiap pihak merasa didengar. Tentu, tidak semua komunikasi berjalan lancar. Ada kalanya orangtua/ wali santriwati kurang memahami kebijakan madrasah, atau santri yang sulit menerima arahan. Dalam situasi seperti ini, kesabaran dan sikap bijaksana sangat diperlukan. Pihak madrasah akan berupaya menjalin komunikasi yang efektif untuk menyelesaikan kendala tersebut.

Alhamdulillah, komunikasi yang baik adalah jembatan yang menghubungkan hati dan pikiran. Di MAS Normal Islam Puteri Rakha Amuntai, komunikasi lebih dari sekadar alat penyampaian informasi; ia adalah seni untuk menyentuh hati dan menggerakkan jiwa. Dengan strategi komunikasi yang tepat, insya Allah, sinergi antara guru, santriwati, dan wali santri dapat terjalin harmonis, membawa keberkahan untuk setiap langkah dalampendidikan.

Anda Perlu Login Untuk Menulis Komen